Kamis, 23 Oktober 2025

Aneh

Malam ini, aneh. 

Untuk bernafas pun rasanya berat...

Entah seperti apa manusia sepertiku ini...

Aku ingin menghilang... Suara itu selalu merayapiku.

.

.

Kamis, 23 Oktober. 25'.

Perlahan ku buka mataku. Baru ku sadari, semalam aku tertidur di samping ranjang. 

Alat tulis tercecer, Kertas berserakan, buku-buku tertekuk. Kacau, pikirku.

.

Walaupun begitu, ruang tak tertata itu sudah lama ku tinggali. Tempat yang selalu menemani saat kesepian mendatangiku. Setidaknya, perasaan nyaman saat berada di dalamnya bukanlah kebohongan. Bahkan saat bertingkah aneh pun, aku tidak pernah merasa di hakimi. Bukankah semua manusia memang seperti itu? Selalu ingin memiliki tempat yang dapat menerima apa pun keadaan kita.

.

.

Karena waktu yang kumiliki terbatas, mau tidak mau aku harus segera merapikannya. Entah darimana aku mendapat kekuatan untuk melakukannya, tapi barangkali hari ini hari keberuntunganku. 

Kurang dari dua jam lagi, aku harus sampai di tempatku bekerja. Merapikan kamar, menyiapkan pakaian, bekal makan siang, hingga bersiap untuk berangkat, kurasa itu waktu yang cukup mepet.

Dalam perjalanan, kondisi sekitar tak seperti biasanya. Jalanan macet, sampah berserakan, banyak orang-orang tua memenuhi jalanan. Awalnya kupikir ada kejadian buruk sedang terjadi, rupanya pasar di daerah itu terendam banjir. Kaki lima, penjual sayuran, buah, hasil laut, jajanan tradisional, semuanya berdagang di pinggir jalan. Pantas, jalanan terasa padat. 

.

.

.

Di atas jembatan, aku menepi. Ada hasrat yang membuatku ingin mengamati interaksi seperti itu, langka menurutku. 



Terus berusaha bertahan, meski mengalami bencana. Seolah bencana yang terjadi hanya angin lalu. Pasrah atau justru tidak mempedulikannya, yang jelas aku bahagia melihat keinginan bertahan hidup yang tulus seperti itu.
.
.
.





Semalam hujan deras, dan nanti malam mungkin akan sama. Begitu kesimpulan yang ku buat setelah menyadari jika langit berwarna kelabu. 
Sambil memandangi langit, aku hanya bisa termenung. 
.
Manusia, alam. 
Keinginan untuk terus hidup, dan alam yang sedang menjalankan hukumnya. Manusia itu manis, murni, indah. Hasrat -bertahan hidup- seperti itu membuatku kagum. Sifat murni seperti itu terlalu mempesona bagiku. 
.
.
Aku ingin menjadi seperti mereka. Aku ingin memiliki alasan untuk terus hidup.
Aku ingin... menjadi manusia.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Penghakiman

Aku selalu mengira diriku jujur...  Namun kenyataannya menyedihkan.  . . . Aku mengatakan pada diriku bahwa aku telah membantu orang, telah ...