Senin, 27 Oktober 2025

Penghakiman

Aku selalu mengira diriku jujur... 

Namun kenyataannya menyedihkan. 


.
.
.

Aku mengatakan pada diriku bahwa aku telah membantu orang, telah berbuat baik, telah peduli pada orang lain. Tapi kenyataannya, aku hanya menebus dosaku dengan kebohongan.

Aku menolong mereka bukan karena ingin mereka bahagia, tapi karena aku takut melihat penderitaan yang tak bisa kuperbaiki. Aku ingin mereka baik-baik saja, agar aku tidak merasa gagal sebagai manusia.

...

Setiap kali seseorang menatapku dengan mata lembut dan berkata “terima kasih”, ada perasaan yang menusuk. Karena aku tahu, bukan mereka yang kutolong... tapi egoku sendiri.

...

Aku menyukai orang yang rapuh.

Karena dari mereka aku belajar menjadi sesuatu yang penting. Aku mendekatinya, mendengarkannya, memberinya cara pandang yang berbeda. Mereka mempercayaiku.

Padahal aku hanya sedang memanfaatkan kelemahan mereka untuk keinginanku sendiri. 

...

Dan setiap kali aku melihat seseorang tumbuh karena bantuanku, aku tersenyum.

Tapi di balik senyum itu, aku selalu bertanya. Kalau mereka mulai berproses, lalu siapa yang akan menolongku?

...

......

Sungguh ironis.

Aku selalu bicara tentang ketulusan, tentang kejujuran, tentang hidup yang bermakna.

Tapi bahkan saat menulis ini pun, aku masih saja berbohong.

Berbohong bahwa aku menulis untuk mengakui keburukanku... padahal mungkin aku hanya ingin dikasihani oleh kata-kataku sendiri.

...

"Manusia selalu membangun kebaikan di atas kebohongan kecil." ~Dazai Osamu 

Aku hanya membangunnya terlalu tinggi.

Minggu, 26 Oktober 2025

Tirai

Entah sejak kapan aku hidup dengan dua wajah.

.

Pembohong...

Licik dengan cara yang paling halus...


.
.
.

Sejak kecil aku belajar, bahwa kejujuran hanya membuat orang lain semakin menjauh. Jadi aku terus belajar cara menyesuaikannya.

...

Hanya mengatakan sebagian kebenaran... lalu menutupi bagian lainnya. Saat berbicara pun, sedikit-banyaknya tak berarti bagiku.
Dan sekarang... aku bahkan tak tahu bagian mana yang benar. 

.

Aku berbicara hanya agar dianggap masih ada.
Membantu orang lain pun hanya karena ingin merasa hidupku berarti.
Tak ada satu pun dari itu yang mungkin benar-benar tulus. Semua hanyalah kesepakatan kecil dengan diriku sendiri, agar tak merasa seburuk itu.

...

.

Aku muak pada diriku yang terlihat tenang. Muak pada tutur kata yang lembut padahal hanya kepalsuan. Muak pada diriku yang tak bisa hidup tanpa meniru orang lain.

...

Setiap hari aku hanya menipu diriku sendiri.. Hingga akhirnya orang lain pun ikut tertipu.

...

Aku tahu, cepat atau lambat, kebohongan yang kubangun akan runtuh.
Dan saat itu tiba... aku tak yakin masih punya tenaga untuk membangunnya lagi.

...

Jadi malam ini.. biarkan aku menulis dengan jujur untuk terakhir kalinya..
Aku takut pada hidup.. tapi lebih takut lagi pada diriku sendiri.
Karena aku tahu, semua kalimat yang pernah kutulis.. tidak ada satu pun yang benar-benar jujur.

Sabtu, 25 Oktober 2025

Penyesalan

 Aku miskin, aneh, payah.

.

.

.

Aku tak memiliki apapun, bahkan mungkin diriku sendiri. 

.
.

Memang benar aku sudah berpenghasilan, tapi hal itu terasa bukan milikku sepenuhnya. 

Aku hidup dari kebaikan orang lain. Makanan, tempat tinggal, kendaraan. Semua hanya pemberian orang tua. Meskipun memang berhak, tapi setiap kali menyadarinya.. mengecewakan.

.

.
.

Aneh. Padahal juga manusia. Tapi Aku tidak tahu bagaimana menjadi manusia... Pikirku, mungkin aku memang tidak diciptakan untuk mengerti manusia.

Aku sulit memahami kapan harus berbicara, kapan harus diam... Kapan harus jujur, kapan harus berpura-pura.

Aku hanya meniru orang lain. Semakin aku meniru, semakin aku kehilangan diriku. Hingga akhirnya aku terbiasa...

Kadang saat bercermin, aku tidak tau siapa sebenarnya yang sedang ku lihat. MEMUAKKAN... kata yang selalu ingin ku ucapkan setiap kali melihat diriku sendiri. Mungkin ini alasanku tidak suka mengambil foto diriku sendiri.

.

.

Payah. Aku tau cara melakukan banyak hal. Belajar.. tersenyum.. menyelesaikan masalah.

Tapi aku tak pernah tau untuk apa semua itu. Yang kutahu hanya melakukannya seperti kebanyakan orang. Semua hanya tindakan tanpa makna... Dan itu melelahkan bagiku.

.

Aku ingin berhenti membenci diri... Tapi setiap kali mencoba, ada alasan baru untuk kembali membenci diri sendiri.

Mungkin seperti itu caraku bertahan hidup, dengan terus menghukum diri... 

Entah sampai kapan.

Jumat, 24 Oktober 2025

Ironis

Menyedihkan...

Kata yang tepat untuk menggambarkan kondisiku saat ini.

.

.

.


Aku harus menulis cerita lagi malam ini.

Lucunya, aku tak tahu tentang apa.

.

.

.

Sudah tiga hari aku hanya menulis keseharian yang terasa biasa, seperti air yang terus mengalir di tempat yang sama, tanpa tujuan. Tapi mungkin memang seperti itulah hidup... tak selalu tentang hal yang luar biasa untuk terasa berarti.

.

Kadang aku berpikir, mungkin rasa bosan juga bentuk kehidupan. 

Dunia hanya sedang berusaha memberitahuku bahwa aku masih hidup, meski tak ada hal menarik yang terjadi.

.

.

Manusia memang aneh, ingin tenang, tapi takut bosan. 

Aku pun sama.

.


.

Jadi malam ini, aku tetap menulis. Bukan karena ada yang ingin kusampaikan, aku hanya takut kalau selalu diam, aku akan berhenti mendengar diriku sendiri.

Kamis, 23 Oktober 2025

Aneh

Malam ini, aneh. 

Untuk bernafas pun rasanya berat...

Entah seperti apa manusia sepertiku ini...

Aku ingin menghilang... Suara itu selalu merayapiku.

.

.

Kamis, 23 Oktober. 25'.

Perlahan ku buka mataku. Baru ku sadari, semalam aku tertidur di samping ranjang. 

Alat tulis tercecer, Kertas berserakan, buku-buku tertekuk. Kacau, pikirku.

.

Walaupun begitu, ruang tak tertata itu sudah lama ku tinggali. Tempat yang selalu menemani saat kesepian mendatangiku. Setidaknya, perasaan nyaman saat berada di dalamnya bukanlah kebohongan. Bahkan saat bertingkah aneh pun, aku tidak pernah merasa di hakimi. Bukankah semua manusia memang seperti itu? Selalu ingin memiliki tempat yang dapat menerima apa pun keadaan kita.

.

.

Karena waktu yang kumiliki terbatas, mau tidak mau aku harus segera merapikannya. Entah darimana aku mendapat kekuatan untuk melakukannya, tapi barangkali hari ini hari keberuntunganku. 

Kurang dari dua jam lagi, aku harus sampai di tempatku bekerja. Merapikan kamar, menyiapkan pakaian, bekal makan siang, hingga bersiap untuk berangkat, kurasa itu waktu yang cukup mepet.

Dalam perjalanan, kondisi sekitar tak seperti biasanya. Jalanan macet, sampah berserakan, banyak orang-orang tua memenuhi jalanan. Awalnya kupikir ada kejadian buruk sedang terjadi, rupanya pasar di daerah itu terendam banjir. Kaki lima, penjual sayuran, buah, hasil laut, jajanan tradisional, semuanya berdagang di pinggir jalan. Pantas, jalanan terasa padat. 

.

.

.

Di atas jembatan, aku menepi. Ada hasrat yang membuatku ingin mengamati interaksi seperti itu, langka menurutku. 



Terus berusaha bertahan, meski mengalami bencana. Seolah bencana yang terjadi hanya angin lalu. Pasrah atau justru tidak mempedulikannya, yang jelas aku bahagia melihat keinginan bertahan hidup yang tulus seperti itu.
.
.
.





Semalam hujan deras, dan nanti malam mungkin akan sama. Begitu kesimpulan yang ku buat setelah menyadari jika langit berwarna kelabu. 
Sambil memandangi langit, aku hanya bisa termenung. 
.
Manusia, alam. 
Keinginan untuk terus hidup, dan alam yang sedang menjalankan hukumnya. Manusia itu manis, murni, indah. Hasrat -bertahan hidup- seperti itu membuatku kagum. Sifat murni seperti itu terlalu mempesona bagiku. 
.
.
Aku ingin menjadi seperti mereka. Aku ingin memiliki alasan untuk terus hidup.
Aku ingin... menjadi manusia.




Rabu, 22 Oktober 2025

Hujan

Hmm, hari ini sepertinya menyenangkan bagiku. 


Seperti kemarin, tadi sore hujan turun lagi, bahkan hingga pukul delapan malam ini. Udara lebih dingin dari biasanya, membuat angin yang bertiup terasa sejuk. Tapi yang ingin kuceritakan kali ini, bukan tentang bagaimana hujan selalu membuatku merasa bahagia sekaligus sedih. Selalu ada hal yang bisa kupelajari ketika hujan. 

.

.

Banyak orang tetap melanjutkan pekerjaannya di tengah hujan. Aku sangat yakin jika sebenarnya mereka bisa saja beristirahat dan menepi sejenak kapanpun mereka mau. Di mataku, mereka melakukannya bukan karena keinginannya sendiri, melainkan karena tuntutan dari kehidupan sosialnya. Aku tahu jika manusia akan melakukan segala hal demi hal yang dianggapnya berharga, entah itu anggota keluarga, masa depan, atau bahkan dirinya sendiri -aku pun demikian.

.

Aku mengamati beberapa diantaranya, pandangan yang tak fokus, kepala tertunduk, bahu kehilangan kekuatannya, -gestur seseorang yang sedang tertekan bahkan putus asa. Hanya ada seorang yang bersikap lain, senyum yang menempel di wajah, tatapan yang selalu ingin berjuang. Aku memahami apa yang telah terjadi pada mereka. Jelas bagiku, kedua sikap tadi membuatku merasakan adanya emosi. Perasaan lelah, tertekan, dan emosi negatif lain membuatku merasakan hal yang sama.

Langit gelap.. Udara dingin... Dan hujan yang membuat perasaan campur aduk. Seperti rayuan lembut yang memaksa manusia untuk meluapkan emosi negatifnya. Hingga akhirnya, mereka kalah. Tak sanggup lagi menahan kecewa, gelisah, frustasi, putus asa dan mungkin rasa bersalah terhadap keluarga karena tidak bisa maksimal dalam pekerjaannya.. Walau begitupun mereka masih melanjutkan pekerjaannya. 

.

Aku tau itu berat.. dan dari situ aku belajar bahwa ternyata manusia itu makhluk yang luar biasa. Bahkan dalam kondisi yang penuh tekanan seperti itu, mereka masih memiliki keinginan untuk terus berjuang demi seseorang yang berharga. 

.

.

.

Selalu.. selalu ku sadari jika manusia itu  luar biasa. Hal itu membuatku bersyukur, walau hanya sebatas menjadi salah satunya. Aku tau ini pasti bagian dari kehendak-Nya. Demikianlah aku menyimpulkan, jika manusia telah menjadi sistem yang luar biasa. 

Karena hal itu.. aku mencintai ciptaan-Nya.

.

Yang ingin ku jabarkan adalah tentang salah satu sifat manusia. Mengorbankan dirinya demi hal yang di anggap berharga. 

Aku memahaminya sebagai kasih sayang. Tapi aku  masih mempelajarinya, mungkin suatu saat, pemahamanku akan berubah.

Tapi memang seperti inilah manusia...






 

Selasa, 21 Oktober 2025

Mungkin aku mulai menyukai kehidupan

Malam ini, 21 Oktober, tahun ke-25 abad 20.

.

Hari ini sama seperti hari-hari lainnya. Di bilang monoton, rasanya pas. 

Hingga akhirnya di pertengahan hari, kurasa perubahan mulai terlihat.



Langit menjadi gelap. Lebih gelap dari biasanya. Pikirku, malam nanti akan menjadi ajang mencari kehangatan di tengah turunnya hujan.

Tepat dua jam setelah itu, ucapanku benar adanya. Hujan mulai turun. Arah angin perlahan berubah. Angin bertiup kencang, membuat dahan-dahan yang tenang menjadi terombang-ambing.

Jalanan besar yang di lewati kendaraan, menjadi tempat yang penuh tekanan. Bukan dunia yang menginginkannya seperti itu, tapi aku melihat jika manusialah yang membuat sedemikan adanya. Mereka berkata pada dirinya, untuk segera mencari tempat aman untuk menepi. Naluriah yang indah, pikirku.

.
.

Pukul 17.00, hujan belum juga mereda -terpaksa aku harus melewatinya. Dalam perjalan, hanya ada genangan setinggi mata kaki. Meski begitu, ternyata banyak pengendara yang melaju cepat. Ucapanku memiliki dasar yang cukup kuat. Adanya cipratan yang cukup tinggi dan menyebar dengan jarak hampir sejauh 4 kaki. Aku yang terkena cipratan tersebut pun tak menanggapinya dengan serius, entah karena aku tak merasa dirugikan atau memang tidak peduli.

.

Setelah perjalanan singkat itu, sampailah diriku. 

Masuk kedalam rumah, mengeringkan barang bawaan, lalu bergegas mandi, jelas itu rencana yang sempurna. Jenius, pikirku. 

Setelah itu pun masih ada hal yang harus ku lakukan, perkuliahanku sudah lama menunggu. Teknologi Informatika untuk Psikologi, ku rasa dimasa mendatang pengetahuan seperti itu akan kubutuhkan, jadi aku memiliki ketertarikan terhadapnya.

Setengah jam berlalu, ada insiden kecelakaan kereta api. Dekat tempat tinggalku saat ini. Informasi yang ku dapat hanya sebatas dari postingan media sosial teman yang kebetulan kulihat.

Entah mengapa tragedi seperti itu bisa membangkitkan rasa keingintahuanku. 

Tak ada korban jiwa.. begitu penjelasan yang kuterima darinya. Ah.. ternyata keingintahuanku hanya wujud lain dari kekhawatiran. 

Cukup manusiawi bagiku. Begitu sudah cukup membuatku merasa menjadi manusia.




Penghakiman

Aku selalu mengira diriku jujur...  Namun kenyataannya menyedihkan.  . . . Aku mengatakan pada diriku bahwa aku telah membantu orang, telah ...