Malam ini, 21 Oktober, tahun ke-25 abad 20.
.
Hari ini sama seperti hari-hari lainnya. Di bilang monoton, rasanya pas.
Hingga akhirnya di pertengahan hari, kurasa perubahan mulai terlihat.
Langit menjadi gelap. Lebih gelap dari biasanya. Pikirku, malam nanti akan menjadi ajang mencari kehangatan di tengah turunnya hujan.
Tepat dua jam setelah itu, ucapanku benar adanya. Hujan mulai turun. Arah angin perlahan berubah. Angin bertiup kencang, membuat dahan-dahan yang tenang menjadi terombang-ambing.
Jalanan besar yang di lewati kendaraan, menjadi tempat yang penuh tekanan. Bukan dunia yang menginginkannya seperti itu, tapi aku melihat jika manusialah yang membuat sedemikan adanya. Mereka berkata pada dirinya, untuk segera mencari tempat aman untuk menepi. Naluriah yang indah, pikirku.
.Pukul 17.00, hujan belum juga mereda -terpaksa aku harus melewatinya. Dalam perjalan, hanya ada genangan setinggi mata kaki. Meski begitu, ternyata banyak pengendara yang melaju cepat. Ucapanku memiliki dasar yang cukup kuat. Adanya cipratan yang cukup tinggi dan menyebar dengan jarak hampir sejauh 4 kaki. Aku yang terkena cipratan tersebut pun tak menanggapinya dengan serius, entah karena aku tak merasa dirugikan atau memang tidak peduli.
.
Setelah perjalanan singkat itu, sampailah diriku.
Masuk kedalam rumah, mengeringkan barang bawaan, lalu bergegas mandi, jelas itu rencana yang sempurna. Jenius, pikirku.
Setelah itu pun masih ada hal yang harus ku lakukan, perkuliahanku sudah lama menunggu. Teknologi Informatika untuk Psikologi, ku rasa dimasa mendatang pengetahuan seperti itu akan kubutuhkan, jadi aku memiliki ketertarikan terhadapnya.
Setengah jam berlalu, ada insiden kecelakaan kereta api. Dekat tempat tinggalku saat ini. Informasi yang ku dapat hanya sebatas dari postingan media sosial teman yang kebetulan kulihat.
Entah mengapa tragedi seperti itu bisa membangkitkan rasa keingintahuanku.
Tak ada korban jiwa.. begitu penjelasan yang kuterima darinya. Ah.. ternyata keingintahuanku hanya wujud lain dari kekhawatiran.
Cukup manusiawi bagiku. Begitu sudah cukup membuatku merasa menjadi manusia.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar