Aku selalu mengira diriku jujur...
Namun kenyataannya menyedihkan.
Aku mengatakan pada diriku bahwa aku telah membantu orang, telah berbuat baik, telah peduli pada orang lain. Tapi kenyataannya, aku hanya menebus dosaku dengan kebohongan.
Aku menolong mereka bukan karena ingin mereka bahagia, tapi karena aku takut melihat penderitaan yang tak bisa kuperbaiki. Aku ingin mereka baik-baik saja, agar aku tidak merasa gagal sebagai manusia.
...
Setiap kali seseorang menatapku dengan mata lembut dan berkata “terima kasih”, ada perasaan yang menusuk. Karena aku tahu, bukan mereka yang kutolong... tapi egoku sendiri.
...
Aku menyukai orang yang rapuh.
Karena dari mereka aku belajar menjadi sesuatu yang penting. Aku mendekatinya, mendengarkannya, memberinya cara pandang yang berbeda. Mereka mempercayaiku.
Padahal aku hanya sedang memanfaatkan kelemahan mereka untuk keinginanku sendiri.
...
Dan setiap kali aku melihat seseorang tumbuh karena bantuanku, aku tersenyum.
Tapi di balik senyum itu, aku selalu bertanya. Kalau mereka mulai berproses, lalu siapa yang akan menolongku?
...
......
Sungguh ironis.
Aku selalu bicara tentang ketulusan, tentang kejujuran, tentang hidup yang bermakna.
Tapi bahkan saat menulis ini pun, aku masih saja berbohong.
Berbohong bahwa aku menulis untuk mengakui keburukanku... padahal mungkin aku hanya ingin dikasihani oleh kata-kataku sendiri.
...
"Manusia selalu membangun kebaikan di atas kebohongan kecil." ~Dazai Osamu
Aku hanya membangunnya terlalu tinggi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar